Energy Review atau Tinjuan Energi adalah langkah awal yang sangat penting dan menjadi fondasi utama dalam setiap kegiatan audit energi. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana, berapa dan di area mana energi banyak digunakan.
Manfaat energy review dalam audit energi:
- Mengidentifikasi Area Prioritas (SEU)
- Membangun Baseline Kinerja Energi. Hasil dari energy review menyediakan data historis dan pola konsumsi yang menjadi baseline. Tanpa baseline yang akurat, sulit untuk mengukur keberhasilan upaya penghematan energi.
- Mengidentifikasi Peluang Awal. Seringkali, energy review dapat mengungkap peluang penghematan yang dapat diimplementasikan dengan cepat dan biaya rendah, bahkan sebelum audit rinci dilakukan.
- Memenuhi Persyaratan Standar ISO 50001. Dalam standar Sistem Manajemen Energi ISO 50001, energy review adalah elemen dasar dalam siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) untuk meningkatkan kinerja energi berkelanjutan.
- Meningkatkan Pemahaman Manajemen, langkah penting menuju budaya efisiensi energi.
Berikut ini adalah contoh energy review yang dilakukan oleh tim auditor energi enerco pada saat melakukan audit energi di salah satu Industri Pembangkit Listrik PLTGU.
Energy Review di PLTGU
Deskripsi proses
PLTGU ini menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar utama. Sebagian gas bumi ada yang digunakan secara langsung dan sebagaian lainnya di ubah menjadi CNG. Pengubahan gas bumi menjadi CNG dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gas pada saat beban puncak.
PLTGU memiliki 2 jenis Gas Turbine yang beroperasi secara berbeda, Simple Cycle dan Combined Cycle.
Pada proses simple cycle, gas bumi di bakar di Combustor pada tekanan antara 11,2 kg/cm2 – 12,44 kg/cm2 (tergantung beban) dengan udara yang terlebih dahulu ditekan menggunakan Compressor. Sebagian hasil pembakaran antara gas bumi dengan udara di ruang bakar (combustor) digunakan untuk menggerakkan generator pada kecepatan di kisaran 3000 rpm.

Gb 1. Diagram proses sederhana simple cycle
Pada proses combined cycle, listrik dihasilkan dari Gas Turbine Generator dan Steam Turbine Generator. Steam diperoleh dari kolom Heat Recovery Steam Generator (HRSG). Di dalam HRSG, air umpan di ubah menjadi steam melalui tiga tahapan, yaitu : Preheater, Steam Low Pressure, dan Steam High Pressure. Selanjutnya steam digunakan untuk menggerakkan turbine.
Pada proses combined cycle, terdapat tiga sub sistem penting yang mempengaruhi efisiensi proses, yaitu:
- Sub sistem gas turbine generator,
- Sub sistem HRSG, dan
- Sub sistem steam turbine generator.
Pola produksi dan konsumsi energi
Hubungan jumlah produksi terhadap konsumsi energi untuk membangkitkan listrik di PLTGU ditunjukkan pada gambar di bawah.

Gb 2. Pola produksi dan konsumsi energi di PLTGU Tahun 2015.
Mencermati gambar di atas, terlihat bahwa pola produksi mengikuti pola konsumsi energi (bahan bakar). Saat produksi naik, konsumsi energinya juga naik. Kecuali pada bulan Nopember dan Desember, kondisi tersebut tidak berlaku.
Berdasar data maintenance, penyimpangan tersebut terjadi karena ada Generator yang tidak beroperasi karena ada kegiatan over haul.
Untuk mengetahui seberapa besar variable produksi mempengaruhi konsumsi energi, maka dibuat suatu hubungan persamaan linier, dimana variable produksi dinyatakan sebagai sumbu x dan konsumsi energi sebagai sumbu y. Dengan mengeluarkan data anomali pada bulan Nopember dan Desember.

Gb 3. Hubungan produksi dan konsumsi energi dengan menghilangkan dua data anomali.
Mencermati persamaan diatas, nilai R2 = 0,94 menunjukkan bahwa variabel produksi memiliki keterkaitan hampir 100% terhadap konsumsi energi. Oleh karena itu, dapat dinyatakan jumlah produksi merupakan driver bagi konsumsi energi yang dibutuhkan untuk memproduksi listrik
Baseline dan baseload
Base line digunakan sebagai referensi awal untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan konservasi energi. Sedangkan base load menunjukkan banyaknya energi yang dibutuhkan meskipun produksi tidak berjalan.
Base line dan base load diperoleh dengan menghubungkan konsumsi energi dengan produksi, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 di atas. Dimana, pada tahun 2015 baseload yang didapatkan adalah sebesar 120.780 MMBTU. Sedangkan baseline, yang merupakan konsumsi energi untuk memproduksi listrik pada tahun 2015 mengikuti persamaan sebagai berikut:
Konsumsi energi (MMBTU)= 8,66 x produksi (MWh) + 120.780 MMBTU
Persamaan baseline digunakan sebagai acuan untuk memasang prosentase target penurunan konsumsi energy. Perbandingan baseline tahun 2014 dan 2015 ditunjukkan pada Gambar di bawah ini.

Gb 4. Perbandingan baseline 2014 dan 2015
Gambar 4 diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2015, PLTGU berhasil menurunkan baseline. Artinya, PLTGU berhasil menurunkan konsumsi energinya, terutama di area produksi. Di area produksi ini, konsumsi energi dipengaruhi oleh penurunan atau peningkatan produksi. Namun, baseload mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.
Keberhasilan menurunkan baseline dapat terus dilakukan. Caranya dengan memonitor dan mencari penyebabnya, kenapa konsumsi energi pada bulan-bulan tertentu di atas baseline. Table di bawah ini menunjukkan perbandingan konsumsi energi aktual dengan baseline di tahun 2015.

Tabel Indeks perbandingan konsumsi energi aktual terhadap baseline tahun 2015
Nilai indek > 1 menunjujkkan konsumsi energi aktual lebih besar dari penggunaan energi yang diharapakan. Karena itu, pada bulan-bulan tertentu yang menunjukkan konsumsi energinya berada di atas konsumsi energi baseline harus menjadi perhatian.
Mengapa bisa terjadi, atau ada tindakan apa yang menyebabkan konsumsi enrgi pada bulan tersebut lebih tinggi dibandingkan baseline. Sehingga hal-hal tersebut dapat dijadikan catatan untuk perbaikan pada tahun berikutnya.
Indikator kinerja energi
Parameter yang telah teruji untuk menunjukkan indikator kinerja energi adalah Intensitas Konsumsi Enegi (IKE). Perhitungan IKE diperoleh dengan menghubungkan data historis konsumsi energi dan data konsumsi bahan baku. Gambaran profil nilai IKE tiap bulan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gb 5. Intensitas Konsumsi Energi bulanan tahun 2015
Berdasarkan data di atas, maka didapatkan intensitas konsumsi energi (IKE) pada tahun 2015 sebesar 9,69 MMBTU/MWh. Perbandingan IKE tahun 2014 dan 2015 ditunjukkan pada Gambar di bawah.

Gb 6. Perbandingan Intensitas Konsumsi Energi tahun 2014 dan 2015.
Gambar 6 di atas mempertegas gambar 4 sebelumnya, dimana program konservasi energi yang harus dilakukan adalah meliputi seluruh area, baik area yang terkait dengan penurunan baseload dan area yang terkait dengan penurunan baseline.
Penutup
Energy review adalah “peta jalan” yang akan memandu audit energi. Energy review memastikan bahwa upaya audit energi menjadi lebih terarah dan efisien. Sehingga akan menghasilkan rekomendasi yang paling berdampak untuk peningkatan kinerja energi.
Anda dapat menghubungi kami melalui email amakahamd@enerco.id untuk konsultasi lebih dalam lagi.



