Training Manajer Energi, (2) MERENCANAKAN MANAJEMEN ENERGI

Pembahasan kedua dalam training manajer energi dalam rangka sertifikasi kompetensi sesuai SKKNI manajer energi berkaitan dengan proses perencanaan. 

training manajer energi, perencanaan manajemen energi

Dalam menyusun perencanaan, manager energi bersertifikat mendasarkan pada informasi dan data yang telah dikumpulkan. Yaitu memulainya dengan menganalisis konsumsi energi dan penggunaannya serta menyusun alternatif tindakan atau proyek yang dapat meningkatkan kinerja energi. Informasi dan data yang diperlukan diantaranya adalah inventarisasi penggunaan energi 3 tahun sebelumnya dan tahun berjalan, daftar variabel yang mempengaruhi konsumsi energi, dan penggunaan energi yang utama atau terbesar.

Pembahasan dalam training manajer energi 

Perencanaan manajemen energi meliputi review energi, indikator kinerja energi, baseline energi, target penghematan energi dan rencana aksi meningkatkan kinerja energi secara berkelanjutan.

1. REVIEW ENERGI
training manajer energi, review energi

Tahap awal dalam perencanaan, manajer energi bersertifikat harus memastikan bahwa review energi telah dilakukan. Tinjauan atau review energi adalah proses untuk menentukan kinerja organisasi atau perusahaan berdasarkan data dan atau pengukuran secara langsung, yang mengarah kepada identifikasi peluang untuk perbaikan kinerja energi. Review energi memberikan informasi yang berguna untuk pengembangan baseline energi dan penentuan indikator kinerja energi (energy performance indicator, EnPI). Termasuk didalamnya untuk mengembangkan kemampuan monitoring dalam perbaikan sistem manajemen energi yang berkelanjutan.

Review energi dapat dilakukan melalui kegiatan audit energi oleh auditor energi yang memiliki sertifikat kompetensi, baik auditor internal maupun eksternal. Review energi dilakukan untuk jangka waktu tertentu, biasanya dalam satu tahun. Dan harus selalu di update sebagaiamana disebutkan ISO 50001 poin 4.4.3. Dalam melakukan review energi, setidaknya terdapat 3 pokok kegiatan analisis yang harus dilakukan;

a. Analisis penggunaan energi.

Meliputi sumber energi yang digunakan sekarang, analisis konsumsi dan penggunaan energi 3 tahun sebelumnya, tahun berjalan dan perkiraan yang akan datang. Dalam analisis penggunaan energi, data atau informasi yang biasa dikumpulkan adalah ;

  • data operasional dari data proses, pengukuran, faktur, dll
  • pengkajian energi atau audit energi
  • studi energi spesifik seperti penelitian untuk meningkatkan proses
  • penelitian keseluruhan organisasi (lokasi) untuk mengidentifikasi sinergi yang terjadi antar plant

Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi pengguna energi signifikan. Definisi signifikansi menjadi suatu hal yang sangat penting dalam penerapan manajemen energi. Di dalam dokumen ISO 50001, kriteria untuk menentukan signifikansi penggunaan energi tidak dinyatakan secara langsung akan tetapi diserahkan kepada organisasi untuk menentukannya.

b. Identifikasi pengguna energi signifikan.

Baik dari sisi konsumsinya maupun biaya. Meliputi fasilitas, peralatan, sistem dan personel. Penggunaan energi lain yang relevan. Menghitung kinerja energi fasilitas, peralatan dan sistem. Dan menentukan baseline. SEU bisa berarti pengguna energi terbesar ataupun yang memiliki potensi pengamatan energi terbesar. Bergantung kepada kebijakan organisasi dalam menentukan prioritas penerapan sistem manajemen energi. Ini juga yang membedakan sistem manajemen energi dengan sistem manajemen yang lainnya, dimana  penerapan sistem manajemen energi bisa dilakukan perbagian dalam satu organisasi atau perusahaan. Berikut ini adalah contoh daftar SEU. Contoh daftar SEU (sumber : Developing and Managing an ISO 50001, 2012)

training manajer energi, SEU
training manajer energi, SEU emisi

Secara ideal, tim energi yang dipimpin oleh seorang manajer energi bersertifikat harus terus bekerja meningkatkan kinerja energi pada pengguna energi sesuai daftar SEU yang telah ditetapkan hingga paling tidak mencakup 80% dari total penggunaan energi perusahaan .   

c. Peluang peningkatan kinerja

Seringkali pada organisasi atau industri yang kompleks, review energi dilakukan oleh auditor eksternal melalui kegiatan audit energi. Lingkup audit energi bisa langsung ke SEU yang menjadi prioritas perusahaan, atau seluruh area perusahaan untuk memotret/menganalisis penggunaan energi terlebih dulu. Hasil akhir audit energi adalah rekomendasi peluang penghematan untuk meningkatkan kinerja energinya. Biasanya hasil rekomendasi penghematan dibedakan berdasar investinya, 

  • Tanpa investasi, sebagian besar berkaitan dengan peningkatan operasi dari unit penggunaan energi
  • Investasi rendah, sebagian besar biasanya terkait dengan modifikasi kecil dan pemeliharaan
  • Investasi yang signifikan, sebagian besar berkaitan dengan penerapan teknologi baru atau desain sistem yang lebih efisien.

Audit energi dapat dilakukan oleh tim auditor energi internal perusahaan atau auditor eksternal. Untuk mendapatkan kedalaman audit energi yang dilakukan, biasanya perusahaan menggunakan jasa auditor energi eksternal yang memiliki pengalaman audit energi di berbagai jenis industri atau perusahaan. Juga untuk memastikan bahwa audit energi yang dilakukan berjalan sesuai prinsip objektif dan independen. Yang penting untuk diperhatikan adalah auditor energi telah mengikuti sertifikasi dan dinyatakan berkompeten yang ditunjukkan dengan kepemilikan sertifikat auditor energi industri.

2, INDIKATOR KINERJA ENERGI (training manajer energi ISO 50006)

Selanjutnya, subkompetensi yang diajarkan dalam kegiatan training manajer energi adalah kemampuan seorang manajer dalam membuat indikator kinerja energi baik indikator operasional maupun indikator sistem manajemen dalam rangka pelaksanaan manajemen energi.

Indikator kinerja energi, atau yang disebut sebagai EnPI (energy performance indicator) dalam dokumen ISO 50001) adalah nilai kuantitatif yang digunakan untuk mengukur kinerja energi, sehingga harus selalu dimonitor dan di review secara reguler dan dibandingkan dengan baseline ataupun benchmarking.

a. Indikator data operasional,

dapat berupa : Indikator tingkat operasional. Biasanya digunakan untuk mengukur dan monitoring penggunaan energi pada unit atau peralatan tunggal seperti boiler. Indikator kinerja energi boiler dinyatakan dalam efisiensi boiler yang dapat dihitung menggunakan metode ASME PTC 4.1 1964, DIN 1942 atau BS 845.

atau Indikator tingkat situs (unit). Contohnya adalah di sektor refinery. Konsumsi energi proses refinery ditentukan tidak hanya berdasar kapasitas minyak mentah yang diolah, tetapi juga dari kompleksitas kilang minyak yang digunakan. Konsumsi energi spesifik (yang dinyatakan dalam satuan energi per unit produksi apa bahan baku) tidak memadai jika digunakan sebagai ukuran kinerja energi refinery karena tidak memperhitungkan kompleksitas kilang minyak. Karena itu banyak perusahaan refinery menggunakan Indeks Intensitas Energi yang dikembangkan oleh Solomon Associates sebagai EnPI.

training manajer energi, indikator kinerja energi unit
b. Indikator pelaksanaan sistem manajemen energi,

Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain; Konsumsi energi total. Yaitu dihitung berdasar jumlah total energi yang dikonsumsi oleh fasilitas tersebut dalam satu periode tertentu. Perhitungan ini sangat sederhana tapi bisa menyesatkan karena tidak mempertimbangkan akvitas yang terjadi dalam fasilitas tersebut

Intensitas energi, konsumsi energi spesifik atau fuel ekonomi. meliputi :

  • Sektor industri : Jumlah energi yang dikonsumsi (termasuk listrik, batubara, gas alam dan bahan bakar lainnya) per ton produk atau per masa energi-ekuivalen atau volume
  • Sektor listrik : Efisiensi pembangkit listrik (Gjout/GJin). Untuk gabungan termal dan pembangkit listrik, perhitungan efisiensi harus memperhitungkan kedua output naik listrik dan termal
  • Sektor residensial atau komersial : Penggunaan listrik per unit area atau volume, atau per okupansi (orang)
  • Sektor transportasi : Bahan bakar yang digunakan dalam satuan energi per km, atau per km penumpang, atau per ton kargo km

Dalam pelaksanaannya, indikator sistem manajemen energi akan berkembang. Tidak harus selalu terkait langsung dengan kinerja energinya tetapi cukup penting digunakan untuk memantau status pelaksanaan manajemen energi. Contohnya antara lain:

  • Jumlah cadangan energi yang telah disiapkan
  • Persentase pengkajian energi yang telah diselesaikan dibandingkan dengan rencananya
  • Jumlah ketidaksesuaian yang berhubungan dengan energi (praktek operasional atau peralatan memenuhi standar perusahaan atau best practice)
  • Persentase tindakan perbaikan yang berhubungan dengan energi telah diselesaikan dibandingkan dengan rencananya
  • Persentase penilaian/pengkajian pada pemasok berkaitan dengan energi.
3. BASELINE ENERGI. (training manajer energi ISO 50006)

Kompetensi selanjutnya yang harus dimiliki oleh seorang manajer energi dan diajarkan dalam training manajer energiadalah kemampuan membuat baseline energi. Selain pengertian tentang baseline energi, yang diajarkan dalam training manajer energi untuk mengikuti sertifikasi manajer ini adalah bagaimana proses menyusun baseline dan metode benchmarking kinerja energi.

Standar manajemen energi ISO 50001 dapat diterapkan pada semua jenis organisasi atau perusahaan. Mengapa? Karena tidak ada target kinerja energi tertentu yang dipesyaratkan. Yang diharuskan adalah menentukan baseline (acuan dasar) penggunaan dan biaya energi-nya sendiri yang sesuai dengan karakteristik perusahaan yang bersangkutan. Di dalam ISO 50001, semua perubahan kinerja energi diukur terhadap baseline energi tersebut. Seorang manajer energi bertugas menetapkan baseline yang berkaitan dengan variabel yang mempengaruhi konsumsi energi. Sehingga setiap peningkatan efisiensi energi secara langsung disertai dengan pengurangan biaya atau menaikkan keuntungan perusahaan.

training manajer energi, baseline

Baseline energi, sebagai salah satu output dari review energi, adalah referensi kuantitatif yang akan digunakan untuk menilai data aktual di masa depan. Baseline energi dapat digunakan untuk masing-masing pengguna energi signifikan di mana penghematan energi dilakukan. Atau digunakan untuk mengukur kinerja energi secara keseluruhan organisasi.

Untuk ketelitian pengukuran maka indikator kinerja energi harus didefinisikan terlebih dahulu di mana output yang dipilih harus mempunyai keterikatan langsung dengan konsumsi energi. Sebagai contoh adalah baseline energi pada industri pembangkit. Terlihat bahwa baseline energi pada tahun 2015 mengalami penurunan dibanding tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah berhasil menurunkan konsumsi energinya.

4. TUJUAN DAN TARGET

Dalam training manajer energi ini, sesuai dengan SKKNI, tugas seorang manajer energi adalah menetapkan target penghematan energi dengan mengidentifikasi peluang penghematan dengan kriteria tertentu. Target yang ditetapkan harus selaras dengan tujuan dan kebijakan energi yang sudah ditentukan sebelumnya. Prinsip dasarnya adalah target bersifat SMART yaitu Specific, Measurable, Achieveable, Realistic, Timely.

training manajer energi, target
5. RENCANA AKSI ENERGI
training manajer energi, rencana aksi

Perencanaan aksi atau tindakan diperlukan untuk memandu kegiatan sehari-hari dari suatu organisasi atau suatu proyek manajemen energi. Proses perencanaan ini berkaitan dengan apa yang perlu dilakukan, kapan perlu dilakukan, oleh siapa perlu dilakukan, dan sumber daya atau input apa yang dibutuhkan untuk melakukannya. Untuk meningkatkan keahlian manajer energi, praktek penyusunan atau studi kasus rencana aksi dilakukan selama training manajer energi. Kebanyakan rencana aksi terdiri dari unsur-unsur berikut :

  • Pernyataan apa yang harus dicapai (output atau hasil yang keluar dari proses perencanaan strategis)
  • Langkah-langkah yang harus diikuti untuk mencapai tujuan ini
  • Jadwal waktu ketika setiap langkah harus dilakukan dan berapa lama
  • Klarifikasi tentang siapa yang akan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap langkah berhasil diselesaikan
  • Klarifikasi dari input / sumber daya yang dibutuhkan

Kelima hal diatas adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang manajer energi. Dan menjadi salah satu pembahasan pokok dalam training manajer energi yang dilaksanakan oleh enerco.